ELiVault Merupakan Solusi Mitigasi Bencana untuk Fintech

Solusi Mitigasi Bencana untuk Fintech dan Perbankan

Banyak perusahaan FinTech dan perusahaan digital lainnya yang mengadopsi cloud. Memanfaatkan infrastruktur cloud, baik di dalam maupun di luar negeri. Seberapa kuat dan canggihnya infrastruktur yang digunakan, bisnis tetap memerlukan solusi mitigasi bencana untuk menghindari downtime berkepanjangan.

Di masa lalu, mayoritas inovasi TI dalam industri keuangan difokuskan pada dampak proses dan operasi internal. Namun begitu perangkat seluler mulai diadopsi massal, hal tersebut beralih ke konsumen – dalam upaya untuk menghadirkan pengalaman seluler yang aman, nyaman, cepat, dan tidak terbatas pada interaksi fisik di cabang.

Saat ini, banyak dari inovasi ini tersedia secara luas termasuk pembayaran, e-deposito, pinjaman digital, pasar modal dan pembayaran P2P.

Namun, peningkatan adopsi konsumen memperkenalkan tantangan baru bagi perusahaan FinTech Рmemaksa mereka untuk pindah ke cloud, untuk memenuhi permintaan tersebut. Permintaan yang terus-menerus agar operasional selalu aktif ini sangat meningkatkan harapan untuk operasi teknologi informasi yang tangguh.

Pentingnya Solusi Mitigasi Bencana Pada Bisnis FinTech

Perbankan dan industri keuangan adalah semua tentang transaksi. Data transaksional, yang dihasilkan melalui transaksi harus diarsipkan dan disimpan dengan aman untuk pengambilan mendatang. Database transaksi harus disimpan sesuai dengan peraturan pemulihan bencana di lokasi yang berbeda.

FinTech yang sangat kental dengan inovasi, akan sering melakukan pengujian kode. Ini dapat dilakukan secara langsung pada sistem yang berjalan, maupun pada lingkungan sistem cadangan. Jika dilakukan secara langsung, pengujian kode dapat sebabkan sistem tidak berjalan atau terjadi downtime.

Pemulihan bencana sangat berguna untuk mengatasi downtime, baik terencana maupun tidak. Strategi pemulihan harus dimiliki oleh setiap bisnia FinTech. (Lihat penjelasan mengenai peraturan OJK untuk FinTech).

Selain itu, proses harus ditetapkan untuk memastikan bahwa pemulihan akan selesai dalam waktu singkat, jika memang ada gangguan. Oleh karena itu, perbankan dan FinTech harus memiliki rencana solusi mitigasi bencana dan kebijakan Pemulihan Bencana (DR) yang kuat.

Salah satu hal utama yang semua dewan peraturan dan sertifikasi sepakati secara konsisten adalah persyaratan untuk program pemulihan bencana yang kuat. Mereka mencari program yang semakin meningkat dalam kompleksitas. Mereka akan melihat pada kemampuan pemrosesan, yang berarti bahwa Anda harus menunjukkan bahwa Anda benar-benar dapat menggunakan sistem yang dipulihkan untuk memproses transaksi bisnis.

Sejumlah peraturan baru untuk FinTech termasuk proses respon insiden “dunia maya”. Proses-proses ini dapat mencakup apa pun dari tim respon mitigasi risiko untuk memanfaatkan pihak ketiga dalam mitigasi DDOS.

Penggunaan Cloud Sebaiknya Didukung Solusi Mitigasi Bencana

Saat ini, setiap bisnis harus merangkul transformasi digital, betapa pun menantangnya – dan khususnya, layanan keuangan dan industri perbankan, di mana meningkatnya masalah keamanan dan pertumbuhan data dapat menghasilkan hukuman yang besar. Sementara digital memimpin jalan bagi revolusi FinTech, cloud adalah platform yang mendasari inovasi.

Banyak startup digital yang memulai debut bisnis mereka dengan menggunakan cloud. Konsep on-demand dan skalabilitas pada cloud menjadi salah satu faktor utama. Namun, insiden downtime kerap mewarnai industri cloud.

Baik Google Cloud, AWS maupun Azure, kerap alami downtime. Downtime tersebut terjadi dengan rentang waktu 1 jam hingga 3 hari.

Downtime pada data center cloud tersebut merupakan downtime yang tidak terduga. Ada yang disebabkan karena kesalahan konfigurasi, perangkat yang kepanasan, dan kegagalan dalam membangkitkan tenaga listrik cadangan.

Jika kita melihat biaya rata-rata downtime per jam adalah sekitar Rp. 1.5 milyar, maka ini artinya solusi mitigasi bencana harus dimiliki untuk menekan atau mencegah dampak kerugian akibat downtime.

Perbankan, FinTech dan bisnis apapun yang membutuhkan jaminan akan ketersediaan layanan, solusi mitigasi bencana dapat lebih menjamin hal tersebut. Strategi pemulihan terbaik adalah dengan menempatkan cadangan di luar fisik dan manajemen.

Data center pihak ketiga seperti Elitery dapat digunakan untuk colocation. Perusahaan startup dapat menggunakan Disaster Recovery as a Service (DRaaS) atau DR-on-demand karena lebih mudah, cepat dan efisien. Sedangkan untuk perbankan yang memiliki sistem lebih kompleks, menggunakan colocation space di Elitery merupakan pilihan paling cepat, tepat dan efisien.

Elitery Hadirkan Solusi Mitigasi Bencana dan Pemulihan Berbasis Cloud

Dengan kebutuhan akan disaster recovery yang sangat jelas bagi industri FinTech, baik sebagai syarat teknis maupun kepatuhan, Elitery menghadirkan solusi mitigasi bencana dan pemulihan untuk startup FinTech dan perbankan skala menengah.

EliVault merupakan solusi pencadangan dan pemulihan yang berjalan pada lingkungan cloud. Perusahaan startup FinTech dapat lebih efisien dalam menggunakan EliVault sebagai solusi mitigasi bencana dan pemulihan.

EliVault didukung oleh data center yang memiliki ketersediaan 99.999% (hampir tidak pernah mengalami downtime), sehingga dapat diandalkan untuk mendukung operasional bisnis anda berjalan terus tanpa ada gangguan.

Saat ini, EliVault telah dipercaya banyak institusi keuangan dan perusahaan FinTech di Indonesia, sebagai solusi mitigasi bencana dan pemulihan.

Dapatkan Free Trial

EliVault memberikan free trial khusus untuk perbankan skala menengah dan perusahan FinTech untuk mencoba sistem Disaster Recover as a Service ini.

Segera lindungi bisnis FinTech anda dari dampak kerugian downtime bersama EliVault.. downtime is not an option!