back

Saat ini hampir seluruh teknis operasional perbankan bergantung pada sistem teknologi informasi. Bencana tidak dapat terduga dan dapat mengakibatkan lumpuhnya operasional atau downtime. Inilah alasan kenapa mitigasi bencana Perbankan sangat diperlukan untuk tetap dapat melayani nasabah.

Bencana, dalam teknologi informasi dapat disebabkan oleh alam maupun manusia. Ketika downtime terjadi, tidak hanya akan menyebabkan perbankan harus mengeluarkan biaya besar, akan tetapi dampak intangible dari downtime juga harus dapat diketahui oleh para pimpinan perbankan di seluruh Indonesia.

Penyebab Downtime

Sebagai penganggung jawab di perusahaan perbankan, ada baiknya jika kita dapat memahami bahwa mitigasi bencana merupakan persyaratan teknis operasional dengan mengetahui beberapa penyebab downtime.

Bencana yang tidak terduga dapat berdampak luas untuk bisnis perbankan. Seperti terlihat pada infografis di samping, downtime yang tak terduga lebih banyak disebabkan oleh kesalahan manusia, baik salah konfigurasi, tidak terawatnya perangkat, hingga serangan cyber.

Sedangkan bencana alam hanya mengisi 12% sebagai penyebab dari kejadian downtime. Ini artinya, downtime karena faktor manusia lebih banyak terjadi.

Dengan demikian, mitigasi bencana di Perbankan lebih merupakan persyaratan teknis operasional selain sebagai syarat kepatuhan dari regulator.

Mitigasi Bencana Perbankan Sebagai Syarat Teknis Operasional

Hingga hari ini, tidak ada satu pihak pun yang kebal terhadap downtime. Beberapa perusahaan besar pernah mengalami downtime dan terkena biaya serta denda yang cukup besar. Downtime bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan, akan tetapi perlu di kelola.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa downtime ada yang terencana dan ada yang tak terduga. Untuk downtime yang tak terduga, sering menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan biaya mulai dari ratusan juta hingga ratusan milyar, tergantung skala bisnis.

Mitigasi bencana perbankan merupakan salah standar teknis operasional yang berlaku secara umum. Hal ini ditujukan untuk memastikan Rencana Keberlangsungan Usaha (Business Continuity Plan) dapat sukses. Ini artinya pengujian secara berkala harus dilakukan.

Infrastruktur teknologi informasi merupakan tulang punggung operasional di bisnis perbankan dari skala kecil hingga besar. Perbankan harus memiliki cadangan infrastruktur untuk memastikan keberlanjutan operasional dalam keadaan apapun.

Hanya dengan mitigasi bencana perbankan dapat memastikan keberlangsungan usaha dan menjaga kepercayaan semua pihak..

Bank Indonesia Mewajibkan Adanya Sarana Mitigasi Bencana Perbankan

Dampak dan penyebab dari downtime semakin luas, serangan cyber semakin meningkat, demikian pencurian data perbankan.

Karena sistem teknologi informasi perbankan merupakan tulang punggung operasional, maka perbankan harus memiliki sarana mitigasi bencana untuk menjamin keberlangsungan usaha.

Berdasarkan hal tersebut, Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan nomor No: 9/15/PBI/2007 yang mewajibkan seluruh perbankan di tanah air untuk memiliki sarana mitigasi perbankan.

Peraturan mengenai mitigasi bencana untuk perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia ini sebetulnya merupakan salah satu cara pemerintah melindungi nasabah dan perbankan.

Hambatan Dalam Menggunakan DRC

Persepsi mengenai kewajiban memiliki sarana mitigasi bencana untuk menjamin keberlangsungan usaha harus dipahami sebagai syarat teknis operasional perbankan, selain sebagai syarat yang diwajibkan oleh regulator (BI) untuk seluruh perbankan di tanah air.

Tidak seperti perusahaan besar yang memiliki anggaran untuk membangun sistem pencadangan dan operasionalnya. Perbankan seperti Bank Perkreditan Rakyat tentu tidak memiliki anggaran ratusan milyar untuk membangun dan mengelola sistem DRC mereka sendiri.

 

Hal tersebut di atas merupakan hambatan utama dalam memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Teknologi terus berkembang pesat, sarana mitigasi bencana perbankan yang tadinya mahal dan sulit kini sudah lebih mudah dan efisien. Yang tadinya harus investasi pembangunan ruangan dan perangkat teknologi informasi, kini sudah tidak perlu lagi. Sehingga, kini perbankan tidak perlu lagi investasi perangkat fisik dan merekrut tenaga ahli IT.

Elitery menghadirkan solusi untuk seluruh Bank Perkreditan Rayat di Indonesia dalam memenuhi kewajiban persyaratan mitigasi bencana.

EliVault, Sarana Mitigasi Bencana untuk Bank Perkreditan Rakyat

Elivault merupakan sarana pencadangan berbasis cloud yang berfungsi dalam mitigasi bencana. Ketika sistem utama mengalami gangguan, operasional bisnis anda dapat tetap berjalan seperti biasa.

EliVault menggunakan infrastruktur Data Center yang telah mendapatkan sertifikasi TIER III oleh The Uptime Institute, untuk menjamin SLA 99.999% kami kepada pengguna EliVault. EliVault juga memiliki sertifikasi keamanan ISO27001 dan sertifikasi PCI DSS untuk standar keamanan transaksi keuangan berbasis kartu kredit dan debit.

Biaya EliVault jauh lebih efisien dibanding harus membangun DRC anda sendiri, sehingga tidak membebani anggaran perusahaan anda dan selalu dapat disesuaikan dengan skala bisnis Anda.

Dengan teknologi cloud dan infrastruktur yang kuat, Elivault sangat cocok digunakan oleh seluruh Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia. EliVault sudah dipercaya ratusan institusi keuangan di Indonesia, mulai dari startup Fintech hingga anggota Bursa Efek Indonesia.

Silahkan hubungi team marketing Elitery untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.